Pernahkah Anda membaca sebuah berita aneh namun nyata tentang ribuan domba yang melompat dari tebing?
Beberapa waktu lalu, dunia internet dikejutkan oleh sebuah kejadian di mana 1.500 ekor domba terjatuh ke jurang tanpa pengawasan, tepat saat gembala mereka sedang pergi sarapan. Kejadiannya sangat tragis sekaligus membuat kita berpikir. Seekor domba pelopor melompat ke jurang, lalu diikuti oleh ratusan domba lainnya secara membabi buta. Sekitar 400 domba pertama tewas seketika. Ratusan domba sisanya selamat hanya karena mereka jatuh tepat di atas tumpukan tubuh teman-teman mereka yang sudah mati.
Kisah nyata ini terdengar mengerikan. Namun jika kita mau merenung sejenak, bukankah sifat kawanan domba tersebut sangat mirip dengan kondisi umat manusia hari ini?
Inilah alasan mengapa Alkitab berulang kali menggunakan metafora “domba” untuk menggambarkan manusia. Artikel ini akan mengajak kita menyelami alasan mengapa manusia sangat membutuhkan gembala dan seberapa besar harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan satu jiwa.
Mengapa Manusia Diibaratkan Sebagai Domba?

Di dalam kitab Yehezkiel 34, Tuhan dengan jelas menggambarkan umat-Nya seperti domba yang tak bergembala. Domba bukanlah hewan yang cerdas jika dibandingkan dengan anjing atau kuda. Mereka memiliki beberapa kelemahan alami yang secara akurat mencerminkan kelemahan rohani manusia.
1. Kebutaan Arah dan Mental Ikut-ikutan

Domba tidak memiliki kemampuan navigasi yang baik. Penglihatan mereka terbatas. Jika dibiarkan sendiri, mereka pasti akan tersesat. Lebih parahnya lagi, domba memiliki insting berkelompok yang sangat kuat. Mereka siap menjadi pengikut tanpa berpikir panjang.
Bukankah ini ciri khas manusia modern? Di tempat atau daerah yang tidak mengenal Tuhan, banyak orang hidup dalam kegelapan arah. Mereka tidak menyadari apa yang ada di depan (seperti jurang kebinasaan). Mereka sekadar hidup mengikuti tren, mengikuti tradisi yang salah, atau meniru orang di depannya. Tanpa disadari, mental ikut-ikutan ini menuntun mereka pada kehancuran rohani. Manusia pada dasarnya tidak berdaya tanpa panduan arah yang benar.
2. Rentan dan Butuh Bimbingan Ekstra

Saat merasa kehausan yang luar biasa, seekor domba tidak bisa membedakan air yang bersih dan air yang kotor. Mereka akan meminum genangan air berlumpur dan berpenyakit demi memuaskan dahaga. Demikian juga manusia. Ketika jiwa manusia merasa haus akan kasih dan tujuan hidup, mereka sering kali “meminum” hal-hal kotor dari dunia ini seperti dosa, pergaulan buruk, dan hawa nafsu yang justru merusak hidup mereka.
Selain itu, domba adalah hewan yang emosional. Mereka sangat bergantung pada suara gembalanya untuk merasa aman. Secara fisik pun, domba tidak dirancang untuk membawa beban berat seperti keledai atau unta. Jika domba diberi beban, punggungnya bisa patah. Hal yang sama berlaku bagi pikiran dan jiwa kita. Manusia sering stres dan depresi karena mencoba memikul beban kekhawatiran yang seharusnya diserahkan kepada Sang Gembala.
Yesus Adalah Gembala yang Baik

Melihat kelemahan manusia yang seperti domba tersebut, Tuhan Allah tidak tinggal diam. Dia sendiri mengambil inisiatif untuk turun mencari domba-domba-Nya yang hilang.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus mendeklarasikan diri-Nya dengan sebuah kalimat yang menggetarkan hati dalam Yohanes 10:11. Ia berkata bahwa diri-Nya adalah Gembala Yang Baik.
Tujuan utama kedatangan Yesus ke dunia sangat jelas, yaitu untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19:10). Namun, misi penyelamatan ini bukanlah sebuah misi yang murah.
Ada harga luar biasa besar yang harus dibayar untuk menebus kemanusiaan yang telah jatuh ke dalam dosa (Roma 3:23). Yesus membayarnya bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri. Ia menjadi Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). Itulah pengorbanan tertinggi untuk menyelamatkan jiwa manusia berapapun harganya.
Waktu Terbatas: Menghadapi Pemisahan Akhir

Tuhan memang penuh kasih, tetapi kita juga harus menyadari kebenaran tentang akhir zaman. Saat Yesus datang untuk kedua kalinya, Ia tidak lagi datang sebagai bayi di palungan yang lemah. Ia akan datang membawa penghakiman yang adil.
Injil Matius 25:32 mencatat sebuah gambaran eskatologis yang sangat tegas. Kelak, seluruh bangsa di bumi akan dikumpulkan di hadapan-Nya. Pada momen itu, akan terjadi pemisahan besar. Sang Gembala akan memisahkan manusia sama seperti seorang gembala memisahkan domba dari kambing.
Domba melambangkan orang-orang yang percaya, taat, dan bertekun sampai akhir. Sedangkan kambing melambangkan orang-orang yang menolak kebenaran. Orang yang secara tulus mengakui Yesus dan bertekun akan diselamatkan.
Fakta yang paling penting untuk kita ingat adalah manusia hanya diberi kesempatan selama masa hidupnya di dunia ini untuk mengambil keputusan. Setelah kematian, tidak ada lagi ruang untuk negosiasi atau mengubah pilihan. Waktu kita sangat terbatas.
Siapkah Anda Membayar Harga untuk Mencari Jiwa?

Jika Kristus sudah membayar lunas harga dosa kita dengan nyawa-Nya, kini tongkat estafet Amanat Agung itu ada di tangan kita (Matius 28:18-20). Menyelamatkan jiwa orang lain juga menuntut kita untuk membayar harga.
Ada tiga peran utama yang bisa kita ambil dalam misi penyelamatan jiwa ini. Siapakah Anda di antara tiga peran ini?
1. Membayar Harga untuk Pergi

Tidak semua orang dipanggil untuk pergi ke ujung bumi, tetapi bagi mereka yang dipanggil, harganya sangat nyata. Untuk bisa pergi memberitakan Injil, seseorang harus siap meninggalkan kenyamanan duniawi (Roma 12:2). Sering kali ini berarti harus rela melepaskan pekerjaan yang mapan, berjauhan dari keluarga tercinta, dan keluar sepenuhnya dari zona nyaman menuju tempat yang mungkin sulit dan berbahaya.
2. Membayar Harga untuk Mendoakan

Jika Anda tidak bisa pergi secara fisik, Anda dipanggil untuk pergi melalui doa. Alkitab dalam 2 Korintus 4:4 menjelaskan bahwa pikiran orang yang tidak percaya sedang dibutakan oleh ilah zaman ini. Untuk mematahkan selubung itu, dibutuhkan peperangan rohani melalui doa. Mendoakan jiwa-jiwa membutuhkan harga berupa waktu. Dalam 24 jam sehari, kita dituntut mendisiplinkan diri. Kita harus rela menyisihkan waktu khusus di pagi hari atau larut malam untuk fokus memohon belas kasihan Tuhan atas jiwa yang terhilang.
3. Membayar Harga untuk Mengutus

Rasul Paulus dalam Roma 10:14-15 bertanya, bagaimana mungkin orang bisa percaya jika tidak mendengar? Dan bagaimana mereka bisa mendengar jika tidak ada yang memberitakan? Serta bagaimana orang bisa memberitakan jika tidak diutus? Ini adalah harga dari segi finansial dan kepedulian. Kita dipanggil untuk mendanai pekerjaan misi Tuhan. Kita harus siap memberikan sebagian dari rezeki yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita. Lebih dari sekadar memberi uang, mengutus berarti kita berkomitmen memperhatikan mereka yang sudah berada di ladang pelayanan. Kita perlu menghubungi mereka secara rutin, menanyakan kabar mereka, dan menguatkan mental mereka.
Menyelamatkan jiwa bukanlah tugas sampingan. Ini adalah denyut jantung kekristenan. Jika Gembala Agung kita bersedia turun dari surga dan membayar dengan darah-Nya demi mencari satu domba yang tersesat, apakah kita masih akan berdiam diri? Mari kita merespons panggilan ini, berapapun harga yang harus kita bayar.

