Pernahkah Anda duduk diam sejenak dan melontarkan pertanyaan ini kepada diri sendiri, “Mengapa saya ada di dunia ini? Apa sebenarnya tujuan hidup saya?”
Ini adalah pertanyaan kuno yang menggemakan kegelisahan terdalam manusia. Coba kita renungkan sejenak. Apakah kita diciptakan hanya untuk menikmati dunia dan memuaskan segala keinginan kita? Apakah siklus hidup ini hanya sebatas: lulus sekolah, mendapat pekerjaan, menikah, membesarkan anak, menimang cucu, lalu selesai?
Pasti ada alasan yang jauh lebih besar dari semua itu. Idealnya, tujuan hidup kita sudah harus jelas dan sedang kita jalankan setiap hari. Jika Anda masih merasa tersesat atau terjebak dalam rutinitas yang kosong, mari kita temukan jawabannya bersama melalui lensa kebenaran iman.
Resolusi Hidup: Menyelesaikan Pertandingan

Untuk menemukan tujuan hidup, kita bisa belajar dari salah satu tokoh besar dalam sejarah, yaitu penulis Surat Efesus. Dalam Kisah Para Rasul 20:24, ia membagikan sebuah prinsip hidup yang sangat menginspirasi.
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.
Ia berkata bahwa ia sama sekali tidak menghiraukan nyawanya sendiri. Satu-satunya hal yang menjadi fokusnya adalah mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan kepadanya, yaitu memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.
Bagi tokoh ini, hidup bukanlah tentang mengumpulkan harta atau mencari kenyamanan. Hidup adalah sebuah misi. Pertanyaannya bagi kita saat ini, di tengah dunia yang dikendalikan oleh dua kuasa besar yaitu kuasa terang dan kuasa gelap, Anda sedang bekerja untuk kuasa yang mana?
Untuk memahami tujuan hidup, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana Tuhan memandang kita. Dalam bahasa Ibrani, ada sebuah kata yang sangat indah yaitu “Hesed” yang berarti rahmat atau kasih setia.
Sola Gratia: Keselamatan Sebagai Pemberian

Kebenarannya adalah Allah sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk menolong kita. Setiap manusia telah jatuh ke dalam dosa dan kehilangan kemuliaan-Nya. Jika kita ingin memiliki kehidupan rohani yang sejati, kita harus dihidupkan kembali oleh Allah sendiri.
Di sinilah kita mengenal prinsip keselamatan yang luar biasa. Kita diselamatkan murni karena kasih karunia (bahasa Latin: Sola Gratia) dan melalui iman (Sola Fide). Iman bukanlah sekadar keputusan sesaat di pikiran kita. Iman adalah tindakan bersandar sepenuhnya kepada Allah setiap hari. Kita bergantung kepada-Nya karena kita sadar bahwa tanpa campur tangan Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Banyak orang berpikir mereka bisa selamat dengan berbuat baik. Bayangkan perbuatan baik kita seperti sebuah tangga yang kita bangun untuk mencapai surga. Sayangnya, tangga buatan manusia itu selalu terlalu pendek dan akan selalu gagal mencapai surga. Pekerjaan dan kebaikan kita tidak akan pernah cukup untuk menghasilkan keselamatan. Sebaliknya, keselamatan itu murni pemberian Allah yang turun ke dunia, berkarya di atas kayu salib, dikuburkan, dan dibangkitkan demi kita.
Rahasia Efesus 2:10: Diselamatkan Untuk Berkarya

Sering kali, orang Kristen sangat fasih mengutip Efesus 2:8-9 yang menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia, bukan hasil usaha sendiri, agar tidak ada yang menyombongkan diri. Kita sangat menyukai ayat tersebut.
Namun, kita sering berhenti sampai di situ dan melupakan kelanjutannya di ayat ke-10. Rasul Paulus dengan sangat tegas menyatakan bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya.
Maknanya sangat jelas. Kita memang tidak diselamatkan OLEH pekerjaan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan pekerjaan baik.
Jika Anda sangat mencintai seseorang, Anda pasti ingin memiliki tujuan yang sama dengan orang tersebut. Demikian pula halnya dengan Bapa di surga. Dia mengasihi Anda dan rindu agar Anda ikut terlibat mewujudkan rencana-rencana-Nya yang mulia.
Pencipta biola legendaris Stradivarius pernah memberikan sebuah ungkapan yang indah tentang Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhan tidak dapat menciptakan karya biola Antonio Stradivarius yang luar biasa itu tanpa bantuan tangan Antonio. Sama misteriusnya dengan itu, Allah telah merancang sebuah misi unik untuk memberkati orang lain secara spesifik melalui Anda. Allah memampukan Anda melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.
Bukti Nyata Sebuah Transformasi: Kisah John Newton

Iman tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindakan dan perubahan hidup. Jika kita membandingkan hidup kita sebelum dan sesudah mengenal Yesus, seharusnya ada perbedaan yang sangat nyata. Sikap kita, pikiran kita, dan cara hidup kita seharusnya memancarkan terang bagi dunia.
Sebuah contoh transformasi yang paling menakjubkan dapat kita lihat dalam kehidupan seorang pria bernama John Newton.
Pada tahun 1700-an, John Newton muda pergi berlayar bersama ayahnya. Setelah melewati berbagai kesulitan, ia terjerumus ke dalam kehidupan yang kelam dan kejam. Ia masuk ke dalam bisnis perdagangan manusia dan akhirnya menjadi kapten kapal budaknya sendiri. Hatinya begitu keras dan tanpa belas kasihan.
Namun, tanggal 10 Mei 1748 mengubah hidupnya untuk selamanya. Kapalnya dihantam badai yang sangat hebat dan menakutkan. Saat kapal itu hampir tenggelam dan maut sudah di depan mata, Newton berteriak dengan segenap kekuatannya, “Tuhan, kasihanilah kami!”
Malam itu, di dalam kabin kapalnya yang basah dan gelap, Newton mulai merenungkan belas kasih Allah. Melalui iman akan pengorbanan Kristus, John Newton yang kejam itu mengalami kasih karunia Allah secara pribadi. Ia akhirnya meninggalkan bisnis perdagangan budak dan menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan.
Meskipun ia menjadi seorang pengkhotbah, dunia lebih mengenalnya melalui sebuah lagu abadi yang ia tulis sebagai kesaksian hidupnya. Lagu itu berjudul “Amazing Grace” atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan “Ajaib Benar Anugerah”. Liriknya berbunyi:
Ajaib benar anugerah pembaru hidupku! ‘Ku hilang, buta bercela; oleh-Nya ‘ku sembuh.
Lagu ini adalah bukti bahwa Roh Allah mampu menunjukkan dosa kita sekaligus memberi kita kuasa untuk melepaskannya. Allah menyatakan kasih karunia justru kepada mereka yang merasa tidak pantas menerimanya.
Kesimpulan: Hidup Berpusat Pada Kristus

Di luar sana, masih banyak sekali orang yang perlu mendengar kabar baik tentang karya Yesus. Dunia membutuhkan orang-orang yang mau mendedikasikan hidupnya sebagai saluran berkat Tuhan.
Hubungan pribadi kita dengan Tuhan melalui kasih karunia seharusnya menjadi harta yang paling berharga dalam hidup kita. Hubungan ini harusnya diutamakan di atas segala rutinitas kuliah, pekerjaan, atau ambisi pribadi.
Apakah hidup Anda saat ini sudah dijalani untuk kemuliaan Allah? Mari kita renungkan perkataan jujur dari John Newton di akhir hidupnya. Ia berkata bahwa ia bukanlah pria yang sempurna seperti yang seharusnya. Ia juga belum menjadi pria yang ia inginkan dan harapkan.
Tetapi, ia menutup kalimatnya dengan sebuah rasa syukur yang mendalam, “Dengan kasih karunia Tuhan, saya bersyukur saya bukan lagi orang yang seperti dulu.”
Biarlah kasih karunia yang sama juga menuntun Anda menemukan tujuan hidup yang sejati hari ini.

