Apakah kamu pernah jatuh ke dalam situasi yang sangat sulit? Apakah kamu pernah merasa putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa? Di tengah tekanan yang begitu berat, apakah kamu pernah meragukan bahwa Allah itu baik?
Pertanyaan ini sangat wajar. Banyak tokoh besar dalam sejarah iman pernah merasakan hal yang sama. Salah satunya adalah Raja Daud.
Kita sering mengenal Daud sebagai raja yang hebat atau pahlawan yang mengalahkan Goliat. Namun, ada masa di mana Daud berada di titik terendah dalam hidupnya. Dari titik terendah itulah lahir sebuah tulisan yang luar biasa, yaitu Mazmur 34. Tulisan ini dibuat oleh seseorang yang sedang menghadapi kesulitan ekstrem.
Bertahan Hidup dengan Berpura-pura Gila

Mari kita lihat latar belakang sejarah Mazmur 34. Daud saat itu sedang dalam pelarian. Ia ketakutan dan tidak mau ditangkap oleh musuh-musuhnya. Saking putus asanya, Daud harus membuang harga dirinya.
Alkitab mencatat bahwa Daud berpura-pura tidak waras di depan Abimelekh. Ia bertingkah seperti orang yang sakit ingatan. Ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya. Ia benar-benar mengubah wajah dan sikapnya hanya untuk bertahan hidup.
Bayangkan betapa takut dan hancurnya perasaan Daud saat itu. Namun, justru dari pengalaman pahit inilah Daud menemukan rahasia ketenangan yang luar biasa.
Rahasia Ketenangan di Tengah Badai Kehidupan

Bagaimana Daud bisa bangkit dari situasi yang begitu memalukan dan menakutkan? Mazmur 34 memberikan kita beberapa langkah praktis yang bisa kita terapkan saat ini.
1. Selalu Memuji Tuhan di Segala Keadaan

Pada ayat 2 sampai 5, Daud bertekad untuk selalu memuji Tuhan.
“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.
Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.”
Pertanyaannya bagi kita, apakah kita sudah selalu memuji Tuhan di setiap musim kehidupan kita?
Mari kita lihat sekeliling kita. Bagi kamu yang sedang menempuh pendidikan di kampus, cobalah sadari bahwa tempat kamu belajar saat ini berdiri oleh karena kebaikan Yesus. Setiap kali kamu melangkah ke kampus, semestinya ada ucapan syukur di dalam hati.
Ada begitu banyak berkat di sana. Kalau di kampus Kristen, kemungkinan besar kamu memiliki dosen yang mengasihi Tuhan dan memulai kelas dengan doa. Kamu memiliki kesempatan beribadah setiap minggu dan belajar Firman Tuhan setiap hari. Jika kamu merasa terbeban, semoga ada komunitas dan kakak rohani yang siap mendengar masalahmu.
Pendidikan yang kamu jalani, bukan sekadar untuk mencari gelar. Ingatlah bahwa melalui kuliah dan profesi apa pun, kita dipanggil untuk melaksanakan Amanat Agung.
2. Percaya Bahwa Allah Menjawab Doa
Pada ayat 5 sampai 8, Daud bersaksi bahwa Allah mendengarkan seruannya.

“Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.”
Apakah Allah sudah menjawab doamu hari ini?
Terkadang kita merasa Tuhan diam. Padahal, Tuhan selalu menjawab doa kita sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna. Jawaban Tuhan itu unik. Dia bisa menjawab “Ya” saat kita siap, “Tunggu” saat momennya belum tepat, atau “Tidak” karena Dia memiliki rencana yang jauh lebih baik untuk kita.
3. Mencari Tuhan dan Mengusahakan Perdamaian

Di dunia perkuliahan maupun dunia kerja, ada banyak sekali pilihan dan godaan. Pada ayat 9 sampai 15, Daud mengingatkan bahwa hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencari Tuhan.
Salah satu wujud nyata mencari Tuhan adalah dengan menjauhi kejahatan dan mencari perdamaian. Tuhan mengajarkan kita untuk tidak selalu membalas. Terkadang kita tidak harus sibuk membela diri sendiri meskipun kita merasa benar. Tidak membenarkan diri sendiri di tengah konflik adalah salah satu bentuk kedewasaan rohani.
4. Menemukan Identitas Baru di Dekat Tuhan

Pada ayat 16 sampai 23, Daud menegaskan bahwa Allah melindungi orang yang percaya kepada-Nya. Bahkan, Tuhan itu sangat dekat kepada orang yang patah hati dan remuk jiwanya.
Di saat kamu merasa hancur, saat kamu merasa tidak layak dan berpikir tidak ada seorang pun yang mau menerima kamu, Tuhan hadir menawarkan identitas baru. Kamu berharga di mata-Nya.
Poin Penting: Allah Tidak Pernah Berubah

Apapun yang sedang terjadi di dalam hidup kita saat ini, sifat Allah tidak pernah berubah. Allah selalu baik. Sekalipun kamu sedang melewati hari yang sangat buruk, kebaikan Allah tetap nyata.
Hal ini ditegaskan dalam Roma 8:28. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Ketika masalah datang, cobalah untuk terus mencari Allah dan usahakanlah untuk membangun cara pandang yang bernilai kekekalan. Kita sering lupa bahwa hal yang paling baik di dunia ini justru terjadi di tengah peristiwa yang paling buruk. Peristiwa apakah itu? Itulah momen ketika Yesus memberikan diri-Nya untuk disalibkan. Di tengah penderitaan yang mengerikan, hutang dosa kita dibayar lunas.
Allah itu baik. Jika Daud bisa memuji Tuhan saat ludahnya menetes di janggutnya karena ketakutan, kita pun pasti bisa menemukan alasan untuk bersyukur hari ini.
Bagaimana kamu akan menceritakan dan mengucapkan kebaikan Tuhan dalam hidupmu hari ini?

