Belajar Merendahkan Diri dari Kitab Yehezkiel

Published on:

Di dunia ini, hanya ada satu hal yang pasti, yaitu perubahan itu sendiri. Zaman berubah, teknologi berkembang, dan manusia pun menua. Namun di tengah segala sesuatu yang bergeser, ada satu pribadi yang tidak pernah berubah. Allah kita tetap sama dari dahulu, sekarang, dan selamanya.

Pertanyaannya, bagaimana dengan hati manusia? Hati manusia sangat dinamis. Ada kalanya kita memiliki hati yang lembut, tetapi ada kalanya hati kita menjadi keras membatu. Kita akan merenungkan mengapa hati dan pikiran manusia perlu diperbarui, dan bagaimana Tuhan melakukan pemulihan itu.

Mari kita mulai dengan sebuah cerita dari dunia bisnis yang sangat akrab dengan kita.

Belajar Mendengar Masukan dari McDonald’s

Siapa di sini yang suka makan di McDonald’s? Restoran cepat saji ini sekarang sangat kaya dan terkenal di seluruh dunia. Mereka memulai bisnisnya di California pada tahun 1953. Namun setelah beroperasi selama kurang lebih 50 tahun, mereka menghadapi masalah besar.

Banyak masyarakat Amerika mulai memandang McDonald’s sebagai tempat yang menyajikan makanan tidak sehat. Bahkan, ada film dokumenter terkenal yang menyoroti fakta ini. Menghadapi krisis citra tersebut, apa yang dilakukan McDonald’s? Mereka tidak menutup telinga. Mereka mendengarkan suara publik dan mulai berbenah. Mereka menambahkan menu makanan yang lebih sehat seperti salad.

Bahkan hari ini, kita bisa pergi ke fasilitas Drive Thru McDonald’s dan memesan kopi layaknya di kedai kopi premium. Mereka beradaptasi untuk menjadi pesaing di pasar minuman kopi, bukan hanya sekadar menjual burger atau es krim.

Kadang kala, kita bisa bersikap baik seperti perusahaan ini. Kita mau memperhatikan masukan dan bersedia berubah demi kebaikan. Namun sayangnya, lebih sering kita dipenuhi oleh rasa sombong. Kita merasa paling benar, tidak mau mendengarkan teguran, menolak diatur, dan bersikeras tidak mau berubah.

Kisah Israel Adalah Kisah Kita

Sikap keras kepala inilah yang membawa kita pada kisah bangsa Israel dan Nabi Yehezkiel. Mengapa kitab-kitab nabi kuno ini ada di dalam Alkitab? Karena semua itu diilhamkan oleh Allah, dan kisah pemberontakan bangsa Israel pada dasarnya adalah cermin dari kisah hidup kita sendiri.

Mari kita berkenalan dengan sang nabi. Nama Yehezkiel dalam bahasa Ibrani adalah Yehezqel. Akar katanya adalah chazq yang berarti “menguatkan” dan El yang berarti “Tuhan”. Jadi, arti nama Yehezkiel adalah “Tuhan akan menguatkan”.

Nama ini sangat pas dengan situasi saat itu. Yehezkiel melayani pada zaman di mana bangsa Israel sedang dihukum. Mereka menolak menaati firman Tuhan dan tidak mau diatur. Akibatnya, Allah membuang mereka dari tanah perjanjian ke Babel.

Tuhan adalah pribadi yang cemburu demi kekudusan nama-Nya. Itulah alasan mengapa Israel harus didisiplinkan. Tuhan merasa sakit hati karena nama-Nya yang kudus dinajiskan oleh perbuatan umat-Nya di tengah bangsa-bangsa lain.

Di tengah masa pembuangan yang kelam itu, Nabi Yehezkiel diperintahkan Tuhan untuk melakukan banyak hal aneh sebagai simbol peringatan, seperti mencukur rambutnya atau berbaring di satu sisi tubuhnya selama berhari-hari. Yehezkiel menaati semuanya tanpa membantah.

Allah Tidak Membutuhkan “Pembelaan” Manusia

Ada satu poin penting yang harus kita pahami. Allah yang maha kuasa tidak perlu dibantu.

Sepanjang sejarah, ada banyak orang dari berbagai agama (termasuk kekristenan di masa lalu) yang berpikir bahwa mereka harus membela Tuhan dengan cara kekerasan. Mereka berpikir harus membunuh orang yang melawan Tuhan melalui perang suci atau perang salib.

Ini adalah pemahaman yang keliru. Tuhan berdaulat penuh atas nama-Nya sendiri. Jika hari ini kita diperbolehkan terlibat dalam pekerjaan Allah, itu semata-mata karena kasih karunia dan kemurahan-Nya yang luar biasa, bukan karena Tuhan tidak berdaya tanpa kita.

Operasi Hati Terbesar: Yehezkiel 36

Sering kali, motivasi kita melakukan perbuatan baik hanyalah untuk menutupi kesalahan dan dosa kita di masa lalu. Kita berusaha membersihkan diri kita sendiri.

Namun dalam Yehezkiel 36, Tuhan menegaskan bahwa keselamatan dan penyucian adalah murni pekerjaan-Nya. Perhatikan bagaimana Tuhan mengambil inisiatif penuh dalam ayat 24 sampai 26. Tuhan berkata “Aku akan…” berulang kali:

  • Tuhan Memberi Harapan (Ayat 24): Tuhan berjanji akan menjemput umat-Nya dari antara bangsa-bangsa dan membawa mereka kembali.
  • Tuhan Menyucikan (Ayat 25): Tuhan berkata, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu.”
  • Tuhan Melakukan Transplantasi Hati (Ayat 26): Tuhan berjanji, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”

Kita tidak mampu menyucikan diri kita sendiri secara rohani. Itulah sebabnya Tuhan menolong kita untuk lepas dari segala dosa (Ayat 29).

Teori “Sandwich” Keselamatan

Ada sebuah struktur bahasa yang sangat indah dalam perikop ini. Pernyataan di awal (Ayat 22) dan di akhir (Ayat 32) mengapit janji pemulihan ini layaknya sebuah roti sandwich.

Tuhan berkata dengan sangat jelas bahwa Dia bertindak bukan karena kebaikan bangsa Israel, melainkan demi nama-Nya yang kudus. Ini menghancurkan segala kesombongan kita. Keselamatan kita bukanlah hasil dari prestasi rohani kita, melainkan anugerah Tuhan semata. Hal ini seharusnya memberikan kelegaan luar biasa bagi Anda yang hari ini merasa putus asa atau merasa terlalu kotor untuk datang kepada Tuhan.

Apa Tujuan dari Perubahan Hati Ini?

Mengapa Tuhan mau repot-repot menyucikan kita dan memberikan hati yang baru?

Tujuannya agar kita bisa ikut serta dalam rencana besar-Nya. Di Perjanjian Baru, Yesus memberikan teladan ini saat Ia membasuh kaki para murid-Nya. Yesus membersihkan umat-Nya melalui kematian dan kebangkitan-Nya di atas kayu salib.

Setelah kita menerima hati yang baru, kita diberi hak istimewa yang luar biasa. Seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 1 dan 2, kita dipenuhi oleh Roh Kudus dan diutus untuk bersaksi sampai ke ujung bumi. Kita dipanggil untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus.

Tujuan akhirnya sangat mulia, yaitu agar kemuliaan Tuhan yang benar dinyatakan ke seluruh bumi. Puncaknya digambarkan dengan sangat indah dalam kitab Wahyu 7:9. Suatu hari kelak, akan ada kumpulan besar orang dari setiap kaum, suku, bangsa, dan bahasa yang berdiri menyembah Anak Domba Allah di surga.

Melihat betapa besarnya kasih karunia Tuhan ini, mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah hati Anda terasa keras hari ini? Apakah Anda merasa lelah karena terus memberontak terhadap Tuhan? Datanglah kepada Sang Tabib Agung. Mintalah hati yang baru kepada-Nya hari ini.

Related

Leave a Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here