Bayangkan Anda sedang menyusun sebuah puzzle raksasa. Kepingan-kepingan puzzle ini tidak dibuat oleh satu pabrik. Kepingan itu diciptakan oleh 40 orang yang berbeda, dari berbagai latar belakang (raja, nelayan, dokter, nabi), yang hidup melintasi tiga benua, dan terpisah oleh rentang waktu lebih dari 1.500 tahun.
Secara logika manusia, mustahil kepingan-kepingan itu bisa tersambung. Pasti akan ada bagian yang tumpang tindih atau gambar yang saling bertabrakan. Namun keajaiban terjadi. Ketika 66 kepingan kitab itu disatukan, semuanya terhubung dengan sempurna membentuk satu gambar agung: Rencana keselamatan Allah bagi manusia melalui Yesus Kristus.
Bagaimana proses penyatuan ini terjadi? Banyak orang, bahkan umat Kristen sendiri, sering bertanya-tanya tentang sejarah di balik sampul Alkitab yang kita pegang hari ini. Mari kita bongkar fakta sejarah dan teologinya, dari peran konsili gereja hingga ikatan perjanjian (covenant) yang menyatukannya.
Membongkar Mitos: Apakah Alkitab Diciptakan oleh Kaisar Romawi?

Ada sebuah mitos populer yang sering disebarkan melalui novel fiksi atau film. Mitos itu mengatakan bahwa daftar kitab-kitab di dalam Alkitab (Kanon) dipilih secara sembarangan oleh Kaisar Konstantinus dalam sebuah pertemuan politik yang disebut Konsili Nicea pada tahun 325 Masehi. Mereka menuduh bahwa kitab-kitab yang tidak disukai penguasa langsung dibakar.
Fakta sejarahnya sama sekali tidak seperti itu.
Konsili Nicea sama sekali tidak membahas daftar kitab suci. Konsili tersebut membahas tentang keilahian Kristus untuk melawan ajaran sesat saat itu. Kenyataannya, gereja mula-mula tidak pernah “menciptakan” Alkitab. Prosesnya lebih mirip seperti seorang ahli seni yang mengenali lukisan asli Leonardo da Vinci. Ahli tersebut tidak membuat lukisannya menjadi asli; ia hanya mengakui dan meresmikan apa yang memang sudah asli sejak awal.
Gereja hanya mengenali kitab-kitab mana yang memang sudah dihembuskan oleh Roh Kudus, yang memiliki otoritas rasuli, dan yang sudah beredar luas serta diterima oleh umat Tuhan sejak abad pertama.
Perjanjian Lama: Warisan Iman yang Dijaga Ketat

Untuk memahami Alkitab, kita harus membaginya menjadi dua era perjanjian. Bagaimana dengan 39 kitab dalam Perjanjian Lama?
Umat Kristen tidak perlu repot-repot menyusun atau menyeleksi Perjanjian Lama. Mengapa? Karena daftar kitab tersebut (yang oleh orang Yahudi disebut Tanakh) sudah terbentuk, dijaga dengan sangat ketat, dan diakui secara mutlak ratusan tahun sebelum Yesus lahir.
Buktinya sangat kuat. Sepanjang pelayanan-Nya di bumi, Yesus berkali-kali mengutip ayat dari kitab Kejadian, Yesaya, Mazmur, dan kitab nabi-nabi lainnya. Yesus sering berkata, “Ada tertulis…” yang menunjukkan bahwa Ia memberikan cap otoritas Ilahi kepada kitab-kitab Perjanjian Lama tersebut. Jika Yesus sendiri mengakui dan tunduk pada otoritas Perjanjian Lama, maka gereja-Nya pun secara otomatis menerimanya sebagai Firman Allah yang sempurna.
Perjanjian Baru dan Peran Konsili Gereja

Lalu, bagaimana dengan 27 kitab Perjanjian Baru?
Pada abad-abad pertama kekristenan, surat-surat Rasul Paulus, Petrus, dan ke-empat Injil disalin secara manual dan diedarkan dari satu gereja ke gereja lain. Seiring berjalannya waktu, mulai bermunculan tulisan-tulisan palsu yang mengatasnamakan para rasul (seperti yang diajarkan oleh kaum Gnostik).
Untuk melindungi umat dari ajaran sesat, gereja merasa perlu untuk membuat batasan yang tegas tentang kitab mana saja yang benar-benar berotoritas. Di sinilah Konsili Gereja berperan.
Melalui Konsili Hippo (393 Masehi) dan Konsili Kartago (397 Masehi), para pemimpin gereja berkumpul. Namun ingat, mereka tidak sedang melakukan pemungutan suara untuk memilih kitab mana yang paling bagus. Mereka hanya meratifikasi (mengesahkan secara formal) daftar 27 kitab Perjanjian Baru yang kenyataannya memang sudah diakui, dibaca, dan dihidupi oleh mayoritas gereja secara universal selama 300 tahun sebelumnya. Roh Kuduslah yang bekerja di dalam hati umat-Nya di berbagai negara untuk mengenali suara Sang Gembala Agung melalui tulisan-tulisan tersebut.
Satu Benang Merah: Perjanjian (The Covenant)

Apa yang membuat ke-66 kitab ini, dari Kejadian hingga Wahyu, pantas disatukan menjadi satu buku? Jawabannya ada pada kata Perjanjian (Covenant).
Alkitab bukanlah buku sejarah dunia. Alkitab juga bukan sekadar buku panduan moral. Alkitab adalah sebuah dokumen perjanjian berdarah antara Allah yang suci dengan manusia yang berdosa.
- Perjanjian Lama adalah bayangan dan persiapan. Semua hukum Taurat, sistem pengorbanan domba, dan nubuat para nabi menunjuk ke depan pada satu titik: “Sang Penyelamat akan datang.”
- Perjanjian Baru adalah kegenapan. Ia mendeklarasikan bahwa: “Sang Penyelamat telah tiba, dan nama-Nya adalah Yesus Kristus.”
Agustinus dari Hippo pernah merangkum hubungan ini dengan sebuah kalimat yang sangat indah: “Perjanjian Baru tersembunyi di dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama disingkapkan di dalam Perjanjian Baru.”
Sebuah Kepastian Iman

Melihat proses sejarah terbentuknya Kanon Alkitab seharusnya menumbuhkan rasa syukur dan iman yang luar biasa di dalam hati kita. Alkitab yang Anda miliki hari ini telah bertahan melewati ujian penganiayaan, api penyiksaan, dan upaya sistematis para kaisar kuno untuk memusnahkannya.
Tuhan yang mengilhamkan Firman tersebut adalah Tuhan yang sama yang turun tangan dalam sejarah untuk menjaga dan melestarikannya hingga sampai ke tangan Anda hari ini. Alkitab benar-benar adalah keajaiban literatur dan bukti nyata pemeliharaan Allah yang sempurna.

