Dalam kehidupan sehari-hari, naluri alami manusia adalah ingin menjadi nomor satu. Kita ingin menjadi yang paling berkuasa, paling terkenal, paling pintar, dan tentu saja, yang paling banyak dilayani. Dunia mengajarkan bahwa kesuksesan diukur dari seberapa banyak orang yang bekerja untuk kita.
Namun, Yesus Kristus datang untuk membalikkan konsep tersebut secara total.
Yesus mengajarkan sebuah pola hidup yang sangat berlawanan dengan arus dunia. Dalam Matius 20:26-28, Ia menegaskan bahwa siapa pun yang ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan. Yesus sendiri memberikan teladan tertinggi. Ia adalah Pribadi yang paling murah hati, Tuhan yang rela meninggalkan segala kekayaan surga dan menjadi miskin, agar kita bisa memperoleh kekayaan kekal selama-lamanya.
Puncak dari teladan ini terjadi pada malam terakhir sebelum Ia disalibkan. Malam itu, Yesus memberikan sebuah pelajaran praktis tentang tiga hal penting: bersikap rendah hati, menerima anugerah, dan melayani sesama.
1. Meniru Teladan Rendah Hati Sang Raja

Pada zaman dahulu, orang-orang bepergian dengan berjalan kaki melewati jalanan tanah yang berdebu. Bisa dipastikan, kaki setiap orang yang baru masuk ke dalam rumah pasti dalam keadaan kotor dan bau. Oleh karena itu, mencuci kaki tamu adalah tugas mutlak seorang budak atau pembantu paling rendah di rumah tersebut. Tugas ini tidak pernah dilakukan oleh seorang guru, apalagi oleh seorang raja.
Namun malam itu, Yesus, Sang Raja di atas segala raja, mengambil handuk dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya.
Tindakan ini menghancurkan segala bentuk kesombongan dan ego manusia. Yesus mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan, tingkat pendidikan, atau gelar seseorang, seharusnya ia semakin giat mencari kesempatan untuk merendahkan diri dan melayani. Sikap sombong adalah musuh utama Tuhan. Tuhan berjanji akan merendahkan mereka yang meninggikan diri, dan meninggikan mereka yang merendahkan diri.
Melayani Orang yang Menyakiti Kita

Mari kita perhatikan satu detail yang sangat mengejutkan dari peristiwa ini. Yesus tahu segala sesuatu. Ia tahu bahwa Yudas Iskariot sudah sering mencuri uang persembahan pelayanan. Ia juga tahu persis bahwa dalam beberapa jam ke depan, Yudas akan mengkhianati dan menjual-Nya.
Namun, apakah Yesus melewati kaki Yudas? Tidak. Yesus tetap berlutut dan membasuh kaki pengkhianat itu dengan penuh kelembutan.
Ini adalah tantangan terbesar bagi kita hari ini. Sejauh mana kita siap melayani musuh kita? Apakah kita rela mengampuni, mengasihi, dan bersikap rendah hati kepada orang yang mengancam atau menyakiti hati kita? Melayani orang yang baik kepada kita adalah hal biasa, tetapi melayani orang yang menikam kita dari belakang membutuhkan kasih karunia Tuhan.
2. Meruntuhkan Gengsi dan Menerima Anugerah

Ketika tiba giliran Petrus, terjadi sebuah percakapan yang sangat menarik. Petrus merasa tidak pantas dan mencoba melarang Yesus membasuh kakinya. Petrus justru mencoba memerintah Tuhan, bukannya membiarkan dirinya diperintah oleh Tuhan.
Bukankah kita sering bersikap seperti Petrus? Kita sering merasa harus “membersihkan diri” terlebih dahulu sebelum datang kepada Tuhan atau sebelum melayani-Nya. Kita berkata di dalam hati bahwa kita harus menjadi orang suci dulu, harus bebas dari segala kebiasaan buruk dulu, barulah Yesus mau menerima kita.
Yesus menolak pemikiran seperti itu. Pesan Injil sangat jelas, yaitu semua kesalehan dan perbuatan baik kita hanyalah seperti kain kotor di hadapan Allah yang maha suci. Kita tidak bisa membersihkan dosa kita sendiri.
Yesus pada dasarnya berkata, “Datanglah dalam kondisimu yang sekarang. Datanglah dengan segala kotoran dan kelemahanmu, biarkan Aku yang membersihkanmu.”
Keselamatan bukanlah tentang membayar hutang dosa melalui amal ibadah kita. Keselamatan didapatkan ketika kita bertobat, percaya, dan menerima anugerah yang telah diselesaikan oleh Yesus di atas kayu salib. Terimalah anugerah itu hari ini tanpa mencoba menyogok Tuhan dengan perbuatan baik Anda.
Tentu saja, setelah kita diselamatkan, Roh Kudus akan bekerja setiap hari menyucikan karakter kita agar semakin serupa dengan Yesus.
3. Melayani Sesama dengan Kasih yang Berbeda

Dalam Injil Yohanes pasal 13, Yesus dengan sangat jelas menyatakan otoritas-Nya. Ia menegaskan bahwa Ia adalah Guru dan Tuhan. Kata asli yang digunakan adalah Kyrios, yang mutlak merujuk pada keilahian sebagai Tuhan.
Yesus berkata, jika Ia yang adalah Tuhan dan Guru saja rela membasuh kaki mereka, maka mereka pun wajib saling membasuh kaki. Kita diwajibkan untuk mengasihi.
Pertanyaannya sekarang, apakah orang yang belum percaya akan tertarik kepada Yesus jika kehidupan orang Kristen tidak ada bedanya dengan dunia ini? Jika kata-kata, tindakan, dan sikap kita sama saja dengan orang lain pada umumnya, kita tidak sedang menawarkan sesuatu yang unik.
Kekristenan menuntut kita untuk mengasihi sesama dengan kualitas yang unggul. Kualitas itu harus terlihat dalam tindakan nyata. Kita dipanggil untuk peduli kepada para janda, menyantuni anak yatim piatu, menyelamatkan anak-anak jalanan, dan menolong mereka yang terjerat narkoba. Kita melakukan semua ini tanpa memandang apakah mereka seiman dengan kita atau tidak. Kita tidak boleh hanya diam. Gereja harus menjadi dorongan dan jalan keluar yang membawa harapan.
Penginjilan Adalah Tindakan Kasih Tertinggi

Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya agar kita mendapat pengampunan dosa, hati yang baru, dan kehidupan kekal. Oleh karena itu, tindakan paling penuh kasih yang bisa kita lakukan untuk orang lain adalah membagikan kabar baik ini kepada mereka.
Amanat Agung bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Masih banyak jiwa di sekitar kita yang belum pernah mendengar makna sejati dari Natal atau Paskah. Keselamatan yang kita terima terlalu berharga untuk disimpan sendiri.
Kita tidak perlu terkejut atau berkecil hati jika kabar baik ini ditolak. Yesus menyadarkan kita bahwa seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya. Jika Yesus yang sempurna saja ditolak oleh ribuan orang dan para ahli agama pada masa itu, apalagi kita. Jika kita ditolak, diancam, atau bahkan dibenci karena memberitakan Injil, berbahagialah, karena kita sedang berjalan tepat di jejak langkah Sang Raja.
Waktu untuk Merespons

Kita adalah duta harapan. Kita dipanggil untuk melayani semua orang dengan rendah hati, persis seperti yang Yesus lakukan. Mari ambil waktu sejenak hari ini untuk merenungkan beberapa pertanyaan tajam ini di dalam hati Anda:
- Apakah gaya hidup saya sehari-hari sudah meniru teladan pelayanan Yesus?
- Dalam pekerjaan atau komunitas, apakah saya lebih sering menuntut untuk dilayani, atau saya mencari celah untuk bersikap rendah hati?
- Apakah saya sudah berhenti mengandalkan kebaikan diri sendiri dan sepenuhnya bergantung pada anugerah keselamatan dari Kristus?
- Langkah nyata apa yang bisa saya ambil minggu ini untuk mengasihi orang lain dengan lebih baik?
- Dan yang paling menantang, kapan terakhir kali Anda bersedia “membasuh kaki” seseorang yang bersikap seperti Yudas di dalam hidup Anda?

