Menjadi Alat Tuhan di Tengah Dunia: Belajar dari Filipus dan Pejabat Etiopia

Published on:

Kehidupan orang percaya selalu berpusat pada satu panggilan utama, yaitu Amanat Agung. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia memberikan perintah yang sangat jelas untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Perintah ini disertai dengan tahapan tugas yang praktis, yaitu Pergilah, Baptislah, dan Ajarkanlah. Ia juga memberikan jaminan bahwa Ia memiliki otoritas penuh dan akan senantiasa menyertai kita.

Namun, membawa pesan Injil tidak selalu berjalan di atas jalan yang mulus. Dalam catatan sejarah gereja mula-mula di Kisah Para Rasul 8, kita melihat bagaimana Amanat Agung justru menyebar luas di tengah api penganiayaan yang hebat.

Kenyataan ini menantang kita secara pribadi. Siapkah kita menderita demi Injil? Siapkah kita dikucilkan?

Memilih Takut Akan Allah daripada Takut Akan Manusia

Dalam perjalanan iman, kita sering kali dihadapkan pada rasa takut terhadap manusia. Kita terjebak dalam usaha menyenangkan orang lain, menjaga pandangan masyarakat terhadap kita, dan menghindari penolakan.

Namun, akan tiba saatnya Roh Kudus menginsafkan hati kita untuk mengambil keputusan tegas. Apakah kita akan takut akan Allah, atau takut akan manusia?

Kita harus memilih salah satu. Mengikut Yesus berarti bersedia menyangkal diri. Kita harus sampai pada titik penyerahan total dan berkata, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku.” Dengan sikap penyerahan diri seperti inilah, Tuhan leluasa memakai kita sebagai alat-Nya.

Jangan gentar, sebab Roh Kudus diam di dalam kita dan janji penyertaan-Nya adalah kekuatan kita yang sejati.

Ketaatan pada Roh Kudus: Perjumpaan di Jalan Sunyi

Kisah Para Rasul 8 menunjukkan bukti nyata bagaimana Tuhan menuntun langkah orang yang taat. Roh Kudus memerintahkan Filipus berjalan ke arah selatan menuju sebuah jalan yang sunyi. Di sanalah ia bertemu dengan seorang Pejabat Istana dari Etiopia.

Pejabat ini memiliki kuasa dan harta. Ia bahkan sedang membaca gulungan Firman Tuhan (Kitab Yesaya) di atas keretanya. Hatinya sudah tertarik pada hal rohani, tetapi ia tidak memahami apa yang dibacanya karena tidak ada orang yang membimbingnya.

Siapa yang Sedang Anda Bimbing Hari Ini?

Saudara, kisah ini adalah teguran sekaligus undangan bagi kita. Manusia diciptakan dengan kecenderungan alami untuk menyembah. Jika mereka tidak menyembah Tuhan yang sejati, mereka akan mencari berhala pengganti. Di zaman sekarang, berhala itu bisa berwujud media sosial, ketenaran, uang, hingga pengakuan sosial.

Banyak orang di sekitar kita haus akan kebenaran, tetapi mereka kebingungan. Pertanyaannya, siapa yang sedang Anda bimbing untuk memahami Firman Tuhan hari ini? Menuntun orang lain kepada kebenaran bukanlah tugas pendeta saja, melainkan tugas kita bersama.

Menerangkan Yesus melalui Perjanjian Lama: Bukti Kisah Abraham

Ketika Filipus mendekati kereta pejabat tersebut, ia melakukan pendekatan yang luar biasa. Ia bertolak dari teks Perjanjian Lama yang sedang dibaca sang pejabat, lalu menggunakannya untuk menerangkan tentang Yesus. Ini mengingatkan kita bahwa keseluruhan isi Alkitab pada dasarnya adalah tentang Kristus.

Sebagai contoh relevan yang bisa kita bagikan kepada masyarakat (terutama menjelang hari raya yang memperingati pengorbanan Abraham), mari kita lihat bagaimana kisah tersebut bersinggungan langsung dengan Injil.

Perhatikan paralel yang mengagumkan ini:

  1. Perjalanan Tiga Hari: Abraham diminta mengorbankan Ishak yang merupakan anak perjanjiannya. Perjalanan ke puncak gunung memakan waktu tiga hari. Selama tiga hari itu, dalam benak Abraham, anaknya sudah dianggap mati. Hal ini merupakan bayangan dari Yesus, Anak Allah yang mati dan dibangkitkan pada hari ketiga.
  2. Memikul Kayu: Anak Abraham memikul sendiri kayu untuk pengorbanannya ke atas bukit. Ribuan tahun kemudian, Yesus memikul salib-Nya ke Bukit Golgota.
  3. Korban Pengganti: Pada detik terakhir, Tuhan menyediakan domba jantan tak bercacat sebagai pengganti. Anak Abraham selamat karena ada yang menggantikan posisinya.

Inilah inti dari Injil! Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Sama seperti anak Abraham yang selamat karena korban pengganti, kita pun dibebaskan dari hukuman maut oleh darah Kristus yang tercurah.

Kesediaan Melangkah ke Mana Saja

Sikap Filipus yang taat melangkah ke jalan sunyi mengajarkan kita tentang kesediaan hati. Siapkah kita bersaksi di mana saja? Siapkah kita diutus ke tempat yang tidak nyaman?

Panggilan ini bisa datang dalam berbagai bentuk. Misalnya, kesediaan melayani ke daerah pelosok seperti Sumba, bergabung bersama tim medis dan mahasiswa relawan. Di daerah terpencil yang minim fasilitas kesehatan, kita belajar bersandar penuh kepada Roh Kudus. Di sanalah kita melayani masyarakat yang terpinggirkan dengan cara menyentuh mereka secara fisik sekaligus membagikan kasih Tuhan secara rohani.

Memahami Makna Baptisan (Baptizo)

Setelah Pejabat Etiopia itu mendengar Injil dan percaya, ia langsung meminta dibaptis saat mereka melewati genangan air. Peristiwa ini memberikan pemahaman mendasar tentang konsep baptisan Alkitabiah.

Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah Baptizo, yang berarti merendam atau menyelam. Pada masa itu, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan proses merendam kain ke dalam pewarna. Proses perendaman inilah yang pada akhirnya menghasilkan perubahan warna secara permanen.

Sama seperti yesus keluar dari air (Markus 1:10), baptisan orang percaya dilakukan dengan cara diselamkan.

Mengapa Diselamkan?

Rasul Paulus memberikan makna teologis yang indah dalam Roma 6:3-4:

  • Masuk ke dalam air: Melambangkan kita mati dan dikuburkan bersama Kristus, sekaligus mengubur manusia lama yang berdosa.
  • Keluar dari air: Melambangkan kebangkitan bersama Kristus untuk menjalani kehidupan yang baru.

Baptisan diperuntukkan bagi mereka yang sudah percaya. Pejabat Etiopia itu mendengar Injil, merespons dengan iman, dan segera dipermandikan tanpa menunda. Menariknya, orang yang memenangkan jiwa baru (seperti Filipus) diberi anugerah untuk dapat membaptis mereka. Hal ini selalu menghasilkan sukacita yang meluap.

Warisan Abadi dari Ketaatan yang Sederhana

Kisah ini tidak berhenti di pinggir jalan sunyi. Alkitab mencatat bahwa pejabat tersebut melanjutkan perjalanannya dengan penuh sukacita.

Sejarah akhirnya mencatat bahwa pejabat inilah yang kelak membawa terang Injil pertama kali ke Benua Afrika, khususnya ke Etiopia. Satu langkah ketaatan Filipus untuk mendekati sebuah kereta, membuahkan warisan keselamatan bagi sebuah bangsa.

Hari ini, panggilan yang sama bergema untuk Anda. Jangan biarkan ketakutan akan manusia menghentikan langkah Anda. Taatilah tuntunan Roh Kudus, ceritakanlah tentang Yesus , dan bersiaplah melihat bagaimana ketaatan kecil Anda hari ini menjadi warisan kekal bagi jiwa-jiwa di masa depan.

Related

Leave a Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here