Apakah Allah Kristen Sama dengan Allah (اَللهُ) Islam? Penjelasan Teologis yang Tepat

Published on:

Di Indonesia, hidup berdampingan di tengah keberagaman agama adalah realitas sehari-hari. Dalam percakapan lintas iman, ada satu pertanyaan fundamental yang sangat sering muncul: “Apakah Allah yang disembah oleh orang Kristen itu sama dengan Allah yang disembah oleh umat Islam?”

Pertanyaan ini sangat wajar, mengingat umat Kristen dan Muslim di Indonesia, Malaysia, serta negara-negara Timur Tengah menggunakan kata yang persis sama—yaitu “Allah”—untuk menyebut Sang Pencipta alam semesta.

Namun, apakah kesamaan nama dan kosakata ini berarti kita sedang berbicara tentang Pribadi yang sama? Untuk menjawabnya secara jujur dan akurat, kita tidak bisa hanya berhenti pada kemiripan bahasa atau fakta bahwa keduanya adalah “agama Abrahamik”. Kita harus membedahnya secara teologis.

Berikut adalah penjelasan mendalam tentang mengapa esensi, karakter, dan karya Allah di dalam Alkitab pada dasarnya sangat berbeda dengan konsep Tuhan di dalam Al-Qur’an.

Persamaan Linguistik vs Perbedaan Teologis

Sebelum masuk ke teologi, kita harus menjernihkan satu fakta sejarah. Kata “Allah” bukanlah nama eksklusif milik satu agama tertentu. Kata ini berasal dari bahasa Arab (al-ilah, yang berarti Sang Ilahi atau The God).

Fakta sejarah mencatat bahwa umat Kristen dan Yahudi berbahasa Arab di Timur Tengah telah menggunakan kata “Allah” dalam ibadah, doa, dan penerjemahan kitab suci mereka berabad-abad sebelum agama Islam lahir pada abad ke-7. Oleh karena itu, penggunaan kata “Allah” oleh orang Kristen Indonesia sangatlah sah secara historis maupun linguistik.

Akan tetapi, memiliki sebutan yang sama tidak berarti memiliki pengenalan yang sama. Dua orang mungkin membicarakan seseorang bernama “Budi”, namun jika Budi yang satu dikenal sebagai direktur perusahaan yang tegas dan Budi yang lain dikenal sebagai seniman yang lembut, maka mereka sebenarnya sedang membicarakan dua pribadi yang berbeda.

Mari kita lihat tiga perbedaan fundamental yang memisahkan pengenalan akan Tuhan di dalam Kekristenan dan Islam.

1. Hakikat Tuhan: Tritunggal vs Entitas Tunggal Mutlak

Perbedaan paling tajam dan tidak bisa dikompromikan antara iman Kristen dan Islam terletak pada hakikat keberadaan Tuhan itu sendiri.

Kekristenan: Allah yang Relasional (Tritunggal)

Pusat dari iman Kristen adalah doktrin Allah Tritunggal (Trinitas). Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan itu Esa (Satu), namun keesaan-Nya adalah keesaan yang kompleks, hidup, dan relasional. Ia menyatakan diri-Nya dalam tiga Pribadi yang setara dan kekal: Bapa, Anak (Sang Firman/Yesus Kristus), dan Roh Kudus.

Karena Tuhan adalah Tritunggal, 1 Yohanes 4:8 bisa mengatakan bahwa “Allah adalah kasih.” Kasih membutuhkan objek. Sebelum alam semesta, malaikat, atau manusia diciptakan, Allah sudah mempraktikkan kasih secara sempurna di dalam relasi internal antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dia tidak membutuhkan manusia agar bisa mengasihi; keberadaan-Nya sendiri adalah relasi kasih.

Islam: Keesaan Monadik (Tauhid) dan Sebuah Dilema Teologis

Di sisi lain, Islam memegang konsep Tauhid, yaitu keesaan Allah yang tunggal secara mutlak tanpa sekutu, tanpa bagian, dan tanpa relasi internal. Al-Qur’an dengan sangat tegas menolak konsep bahwa Tuhan memperanakkan atau diperanakkan, dan memandang keyakinan Kristen tentang Yesus sebagai Anak Allah (Sang Firman yang menjadi manusia) sebagai syirik.

Namun, jika digali lebih dalam secara filosofis dan teologis, konsep keesaan mutlak ini sebenarnya menimbulkan sebuah dilema besar. Dalam pemikiran literatur Islam, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hanya terbagi ke dalam dua entitas yang terpisah secara mutlak: Khaliq (Sang Pencipta) dan Makhluq (Sesuatu yang diciptakan).

Pertanyaannya: Berada di kategori manakah Firman Tuhan (Kalamullah)? Jika Firman Tuhan dianggap sebagai Makhluq (ciptaan yang memiliki awal), hal ini sangat bertentangan dengan teologi Islam ortodoks yang meyakini bahwa Firman Allah adalah kekal, tidak diciptakan (uncreated), dan sudah ada sejak kekal (pre-existence) bersama Allah sendiri. 

Tetapi, jika Firman itu Kekal dan Tidak Diciptakan (bagian dari Sang Khaliq), bukankah ini membuktikan bahwa di dalam keberadaan Allah yang Esa, terdapat “Firman” yang kekal bersama-Nya?

Di sinilah iman Kristen memberikan jawaban teologis yang paling utuh, logis, dan sempurna: Sang Firman yang kekal dan tidak diciptakan itu adalah Pribadi yang sehakikat dengan Allah, yang kemudian menjelma menjadi manusia di dalam Yesus Kristus (Yohanes 1:1, 14).

2. Karakter Utama dan Hubungan dengan Manusia

Perbedaan hakikat di atas menghasilkan cara pandang yang sangat berbeda tentang bagaimana Tuhan berelasi dengan manusia ciptaan-Nya.

Kekristenan: Allah sebagai “Bapa” yang Intim

Keindahan sejati dari Injil adalah undangan bagi manusia untuk memiliki hubungan yang sangat intim dengan Penciptanya. Melalui penebusan Yesus Kristus, orang percaya tidak hanya disebut sebagai ciptaan, tetapi diangkat statusnya menjadi Anak-anak Allah (Yohanes 1:12).

Tuhan Alkitab adalah Bapa surgawi. Kita bahkan diizinkan untuk memanggil-Nya dengan sebutan Abba (sebutan ayah yang sangat akrab dan penuh kasih sayang). Dia adalah Tuhan yang dekat, merelakan diri-Nya merasakan penderitaan manusia, dan menangis bersama ciptaan-Nya.

Islam: Allah sebagai “Tuan” yang Transenden

Dalam Islam, Allah digambarkan sebagai Pribadi yang penuh rahmat dan pengasih, namun Dia tetaplah Sang Tuan (Rabb) yang Maha Transenden (jauh dan tidak terhampiri wujud-Nya). Manusia memosisikan diri sebagai hamba (Abd). Jarak antara Sang Pencipta dan ciptaan sangatlah mutlak. Dalam teologi Islam ortodoks, Tuhan tidak memiliki relasi kekeluargaan dengan manusia; menyebut Tuhan sebagai “Bapa” adalah sesuatu yang tidak bisa diterima secara konsep.

3. Solusi Atas Dosa manusia: Salib vs Amal Ibadah

Perbedaan teologis paling krusial bermuara pada bagaimana manusia bisa diselamatkan dari hukuman dosa.

Kekristenan: Allah yang Turun Tangan (Anugerah)

Alkitab mendiagnosis masalah dosa sebagai kondisi yang mematikan. Kebaikan dan amal ibadah manusia, sekeras apa pun diusahakan, diibaratkan seperti kain kotor di hadapan Allah yang Maha Suci. Keadilan Tuhan menuntut hukuman maut atas dosa.

Namun, karena kasih-Nya yang tak terselami, Allah sendirilah yang menyediakan jalan keluar. Sang Firman (Yesus) turun ke bumi, menjadi manusia, dan mengambil alih hukuman dosa kita di atas kayu salib. Keselamatan Kristen adalah murni anugerah. Kita tidak diselamatkan karena perbuatan baik kita, melainkan karena perbuatan Kristus yang sempurna di kayu salib. Keadilan ditegakkan, dan kasih dibuktikan.

Islam: Timbangan Amal dan Hukum

Islam menolak penyaliban Yesus. Keselamatan dalam Islam pada dasarnya adalah sistem hukum dan timbangan. Seorang Muslim berharap pada hari penghakiman kelak, amal ibadah (kebaikan, salat, puasa, sedekah) akan lebih berat daripada dosa-dosanya, dan berharap mendapat rahmat Allah agar bisa masuk ke surga. Tidak ada jaminan kepastian keselamatan mutlak yang bisa diklaim oleh manusia, karena Tuhan memiliki kebebasan absolut untuk menentukan nasib seseorang.

Kesimpulan: Realitas yang Tidak Bisa Disamakan

Kembali ke pertanyaan awal: Apakah Allah Kristen sama dengan Allah Islam?

Secara linguistik dan historis dasar penciptaan, kedua agama merujuk pada Pribadi Pencipta Tunggal. Namun, ketika kita berbicara tentang siapa sebenarnya esensi Pencipta tersebut, bagaimana karakter-Nya, dan apa yang Ia lakukan untuk menyelamatkan dunia, jawabannya adalah TIDAK SAMA.

  • Allah di Alkitab menyatakan diri-Nya sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus; Allah di Al-Qur’an menolak tegas konsep ini.
  • Allah di Alkitab mengasihi manusia hingga rela turun menjadi manusia dan disalibkan; Allah di Al-Qur’an adalah Tuan yang agung dan keselamatan didapat dari ketundukan pada hukum-Nya.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengasihi dan menghormati saudara-saudara Muslim kita sebagai sesama ciptaan Tuhan. Namun pada saat yang sama, kita harus memiliki kejelasan intelektual dan teologis tentang iman kita sendiri. Kita menyembah Allah yang telah menyingkapkan wajah-Nya dan kasih-Nya yang paling sempurna melalui satu-satunya Pribadi: Yesus Kristus, Sang Juruselamat.

Related

Leave a Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here