Siapa di sini yang pernah berziarah? Ke mana biasanya Anda pergi?
Jika kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, ziarah diartikan sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia. Praktik ini sangat umum di budaya kita. Di berbagai daerah, ada banyak sekali tempat yang sering dijadikan lokasi ziarah, mulai dari makam para tokoh agama, situs peninggalan bersejarah, hingga tempat-tempat sunyi yang dianggap sakral.
Orang rela melakukan perjalanan jauh saat berziarah untuk mencari sesuatu, entah itu ketenangan, berkat, atau jawaban atas doa mereka. Namun, bagaimana sebenarnya konsep ziarah di dalam Alkitab? Mari kita telusuri sebuah kebenaran yang indah tentang perjalanan iman kita.
Nyanyian Ziarah: Lagu Perjalanan Iman Umat Tuhan

Di dalam Alkitab, ada sebuah kumpulan pujian yang sangat unik. Kumpulan ini disebut “Nyanyian Ziarah” atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Songs of Ascent. Nyanyian ini mencakup 15 pasal, yaitu mulai dari Mazmur 120 hingga Mazmur 134. Dari lima belas mazmur ini, empat di antaranya digubah oleh Raja Daud, satu oleh Raja Salomo, dan sisanya tidak dicatat nama penulisnya.
Kapan lagu-lagu ini dinyanyikan? Sejarah mencatat bahwa nyanyian ini dikumandangkan pada dua momen penting. Pertama, saat bangsa Israel kembali dari masa pembuangan di Babel dan Asyur. Kedua, lagu ini selalu dinyanyikan saat orang-orang Israel melakukan perjalanan naik ke Yerusalem.
Sesuai dengan hukum Taurat, setahun tiga kali semua laki-laki Israel yang sehat diwajibkan pergi ke Bait Allah di Yerusalem. Mereka datang untuk merayakan tiga hari raya utama. Hari raya tersebut adalah Paskah (bersama dengan perayaan Roti Tidak Beragi), Pentakosta, dan Pondok Daun.
Sepanjang perjalanan yang melelahkan itu, para pemain musik dan penyanyi dari kaum Lewi memimpin umat untuk menaikkan Mazmur 120 sampai 134.
Mengingat Kembali Kesetiaan Tuhan

Mengapa mereka harus bernyanyi? Pujian-pujian ini bukanlah sekadar lagu pengisi waktu luang. Nyanyian ini adalah alat untuk mengingat kesetiaan Tuhan.
Ratusan tahun sebelum masa pengasingan, bangsa Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala. Mereka hidup munafik dan tidak peduli kepada orang miskin. Akibatnya, Tuhan mendisiplinkan mereka dengan pembuangan. Jadi, ketika mereka akhirnya diizinkan kembali ke tanah perjanjian, hati mereka berlimpah dengan sukacita. Mereka menyanyi untuk memperingati sejarah nenek moyang mereka, kebesaran kuasa Tuhan, dan kasih setia-Nya yang tidak pernah gagal.
Bagi kita hari ini, pertanyaannya adalah kapan kita mengambil waktu khusus untuk merenungkan kesetiaan Tuhan? Kita mungkin tidak perlu berjalan kaki berhari-hari ke Yerusalem. Namun, kita bisa menggunakan momen-momen seperti hari ulang tahun gereja atau peringatan pribadi untuk mengevaluasi diri dan mengingat kembali kebaikan Tuhan di masa lalu.
Siapa yang Bertugas Memuji Tuhan Hari Ini?

Pada zaman Perjanjian Lama, ada satu suku khusus yang ditugaskan untuk memimpin pujian dan penyembahan. Suku itu adalah kaum Lewi. Mereka dikhususkan oleh Tuhan untuk melayani di Bait Suci.
Lalu, bagaimana dengan zaman sekarang? Apakah ada suku khusus yang menjadi perantara kita dengan Tuhan? Jawabannya adalah tidak ada. Di dalam anugerah Kristus, kita semua adalah keluarga Tuhan. Kita memiliki iman yang sama dan Juruselamat yang sama. Alkitab menyebut kita semua sebagai “Imamat yang Rajani”. Artinya, setiap orang yang percaya kepada Yesus kini memiliki akses langsung kepada Allah dan bertugas sebagai pelayan-Nya.
Puji Tuhan, saat ini ada banyak orang dari berbagai latar belakang yang diberi talenta khusus untuk membantu memimpin kita dalam ibadah. Namun, tugas menyembah Tuhan bukanlah milik segelintir orang saja. Itu adalah tugas kita bersama.
Iman Bukanlah Sebuah Warisan

Satu hal yang perlu kita ingat, status sebagai penyembah Tuhan tidak didapatkan dari keturunan. Seseorang mungkin lahir di tengah keluarga Kristen atau keluarga hamba Tuhan. Ia mungkin sudah mengikuti sekolah minggu sejak balita. Namun, kekristenan sejati bukanlah sebuah warisan darah. Kata “Kristen” berarti pengikut Kristus.
Setiap orang harus mengalami momen di mana ia menyadari keberdosaannya. Kita harus mengakui bahwa tidak ada satu pun perbuatan baik yang mampu melunasi hutang dosa kita. Kita mutlak membutuhkan pengorbanan Anak Domba Allah, yaitu Yesus Kristus, untuk menghapus dosa kita. Setelah kita mengambil keputusan pribadi untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, barulah kita sah menjadi hamba Tuhan. Barulah kita bisa menyembah Dia dalam roh dan kebenaran.
Mengapa Harus Memuji Tuhan di Malam Hari?

Jika kita membaca Mazmur 134, ada sebuah frasa yang sangat menarik. Mazmur ini mengajak para hamba Tuhan untuk memuji Dia pada malam hari. Para peziarah pada masa itu memulai pujian mereka di pagi hari dan menutupnya di malam hari saat tiba di Bait Allah. Mengapa malam hari secara khusus disebutkan?
Mari kita jujur pada diri sendiri. Sering kali, kita justru berhenti memuji Tuhan di malam hari dan beralih “memuji” diri sendiri. Kita memuaskan keinginan daging dengan menonton televisi berjam-jam, melihat media sosial tanpa henti, atau mencari pengakuan lewat jumlah like pada foto yang kita unggah.
Bahkan yang lebih menyedihkan, malam hari sering menjadi waktu di mana orang merasa bebas melakukan dosa yang tersembunyi. Kegelapan malam membuat rasa malu berkurang. Hal-hal yang tidak berani dilakukan di siang hari, mulai dari kemabukan hingga hubungan di luar nikah, sering kali terjadi pada malam hari karena dianggap tidak ada orang yang melihat.
Inilah sebabnya firman Tuhan memotivasi kita untuk memuji nama-Nya di malam hari. Kita perlu mendisiplinkan diri. Jika waktu sudah larut, cobalah untuk mematikan atau membisukan telepon genggam. Kita tidak perlu cemas menunggu pesan masuk. Allah yang berdaulat sedang menjaga hidup kita. Beristirahatlah dengan tenang sambil menaikkan rasa syukur kepada Tuhan sebelum mata terpejam.
Diberkati Secara Rohani Untuk Menjadi Berkat

Di akhir Nyanyian Ziarah, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi akan memberkati umat-Nya. Kita sering mendengar frasa yang berbunyi, “Kita diberkati untuk menjadi berkat.”
Sering kali pikiran kita langsung tertuju pada berkat jasmani atau uang. Padahal, kita juga dituntut untuk menjadi berkat secara rohani. Kasih, sukacita, dan damai sejahtera tidak bisa dibeli dengan uang. Anda tidak akan pernah menemukan pedagang yang menjual belas kasihan atau kesabaran di pasar tradisional mana pun. Kitalah yang harus “membagikannya” secara gratis kepada dunia.
Kita bisa membagikan kasih kepada keluarga, kepada tetangga, dan bahkan kepada orang yang memusuhi kita. Mengapa kita bisa mengasihi musuh? Karena pada saat kita masih menjadi musuh Allah akibat dosa-dosa kita, Kristus rela mati bagi kita. Kasih yang luar biasa inilah yang memampukan kita untuk mendoakan orang yang membenci kita.
Membawa Kabar Baik Kepada Dunia

Berkat terbesar yang pernah kita terima adalah pengampunan dosa dan janji kehidupan kekal. Kita yang seharusnya dihukum mati kini telah didamaikan dengan Tuhan.
Jika kita sudah menerima berkat keselamatan yang begitu mahal ini, kita memiliki tanggung jawab untuk membagikannya. Bagaimana orang lain bisa mendengar kabar baik jika tidak ada yang memberitakannya? Sesuai dengan Amanat Agung yang Yesus berikan, kita ditugaskan untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus.
Kita semua adalah peziarah di dunia ini. Kita sedang berada dalam sebuah perjalanan panjang menuju rumah Bapa. Sepanjang perjalanan ini, mari kita terus merenungkan kebaikan Tuhan. Teruslah memuji Dia siang dan malam. Sama seperti kebangunan rohani luar biasa yang pernah terjadi di kampus Kristen Asbury, di mana pujian dinaikkan tanpa henti siang dan malam dan menyebar ke banyak tempat.
Biarlah hidup kita juga dipenuhi dengan kuasa Tuhan, sehingga melalui kesaksian kita, semakin banyak jiwa yang diselamatkan dan menemukan damai sejahtera yang sejati.

