Yesus adalah Kurios: Bukan Sekadar ‘Tuan’, Melainkan Yahweh yang Menjelma

Published on:

Pendahuluan: Tuduhan Terhadap Iman Kristen

Sejak abad pertama hingga hari ini, sebagian orang menuduh bahwa umat Kristen “mencocok-cocokkan” Alkitab Yahudi untuk membenarkan iman mereka. Mereka menuduh bahwa gereja telah mencuri konteks asli dari Kitab Suci Ibrani dan menjadikannya dasar untuk menyembah “manusia Yahudi bernama Yesus”.

Sebagian lagi mengatakan,

“Kata ‘Tuhan’ dalam Perjanjian Baru hanya berarti ‘Tuan’ atau ‘Guru’.
Yesus hanyalah manusia biasa, dan ajaran tentang ketuhanan-Nya hanyalah buatan Paulus.”

Namun, benarkah demikian?

Untuk menjawab tuduhan ini, kita perlu kembali ke akar bahasa, konteks sejarah, dan kesaksian para rasul sendiri. Karena hanya dengan memahami konteks aslinya, kita bisa melihat bahwa iman Kristen bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan kelanjutan dari rencana penyelamatan Allah yang sudah dimulai sejak Perjanjian Lama.

Arti Kata “Kurios”  Antara ‘Tuan’ dan ‘Tuhan’

Septuaginta  Jembatan Antara Ibrani dan Yunani

Dalam bahasa Yunani, kata “Kurios” (κύριος) memang bisa berarti “tuan”, “pemilik”, atau “penguasa”. Namun, penggunaan kata ini dalam konteks Kitab Suci melampaui makna sosial.

Ketika orang Yahudi menerjemahkan Alkitab Ibrani (Tanakh) ke dalam bahasa Yunani  yang dikenal dengan nama Septuaginta (LXX)  mereka menghadapi dilema. Nama kudus Allah, YHWH (Yahweh), terlalu suci untuk diucapkan. Maka, mereka menggantinya dengan kata “Kurios”.

Contohnya, dalam Mazmur 23:1:

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
(Mazmur 23:1)

Dalam versi Septuaginta, ayat ini diterjemahkan sebagai:

Kurios ho poimēn mou”  “Kurios adalah gembalaku.”

Dengan demikian, bagi para pembaca Yahudi di abad pertama, kata Kurios bukan sekadar “tuan manusia”, tetapi nama pengganti bagi Yahweh sendiri.

Ketika Perjanjian Baru Menyebut “Yesus adalah Kurios”

Ketika Rasul Paulus menulis dalam Filipi 2:11:

“…dan setiap lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan (Kurios), bagi kemuliaan Allah Bapa.”
(Filipi 2:11)

Ia tidak sedang membuat istilah baru. Ia sedang mengutip struktur penyembahan Yahudi dari Septuaginta, dengan pengakuan yang radikal:

“Yesus adalah Kurios” berarti “Yesus adalah Yahweh”.

Bagi orang Yunani, ini mungkin terdengar seperti panggilan kehormatan. Tapi bagi orang Yahudi yang memahami Septuaginta, pernyataan ini adalah pengakuan ilahi  bahwa Yesus bukan hanya utusan, melainkan Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia.

Paulus atau Yesus Siapa yang Menciptakan Doktrin Ketuhanan?

Tuduhan Bahwa Paulus Mengarang Ajaran

Banyak penentang iman Kristen berargumen bahwa ajaran tentang ketuhanan Yesus baru muncul karena Paulus, bukan dari Yesus sendiri. Mereka berkata bahwa Yesus hanyalah nabi moral yang diubah oleh Paulus menjadi “Anak Allah”.

Namun, Alkitab menunjukkan bahwa para saksi mata Yesus sendiri telah mengakuinya sebagai Tuhan sebelum Paulus menulis surat-suratnya.

Pengakuan Tomas  “Ya Tuhanku dan Allahku”

Dalam Yohanes 20:28, setelah Yesus bangkit, murid Tomas berseru dengan kagum:

“Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”
(Yohanes 20:28, TB)
(Yunani: ὁ Κύριός μου καὶ ὁ Θεός μου  Ho Kurios mou kai ho Theos mou)

Tomas tidak berkata, “Guru” atau “Pemimpin,” melainkan “Allahku.”
Dan yang luar biasa  Yesus tidak menegur Tomas. Sebaliknya, Ia meneguhkan imannya (Yohanes 20:29).

Jika Yesus hanyalah manusia, menerima penyembahan seperti itu adalah penistaan terhadap Allah (lihat Kisah Para Rasul 14:15, di mana Paulus menolak disembah).
Namun Yesus menerimanya, karena Ia memang layak disembah.

Yesus Mengampuni Dosa  Hak Ilahi yang Tidak Diberikan kepada Manusia

Dalam Markus 2:5–12, Yesus berkata kepada orang lumpuh:

“Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”
(Markus 2:5)

Para ahli Taurat langsung bereaksi keras:

“Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?”
(Markus 2:7)

Namun Yesus membuktikan otoritas-Nya dengan menyembuhkan orang itu, lalu berkata:

“Tetapi supaya kamu tahu, bahwa Anak Manusia berkuasa di dunia untuk mengampuni dosa…”
(Markus 2:10)

Dengan kata lain, Yesus tidak hanya berbicara tentang pengampunan dosa  Ia memiliki kuasa untuk melakukannya. Itu adalah tanda otoritas ilahi.

Yesus Diterima dan Menerima Penyembahan

Sepanjang Injil, kita menemukan momen di mana Yesus menerima penyembahan manusia:

  • Setelah berjalan di atas air:


    “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”
    (Matius 14:33)

  • Ketika menyembuhkan orang buta sejak lahir:


    “Lalu ia berkata: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembah-Nya.”
    (Yohanes 9:38)

Yesus tidak menolak penyembahan itu.
Sebaliknya, Ia menerimanya dengan otoritas penuh  karena Ia bukan sekadar guru, tetapi Allah yang hadir di tengah umat-Nya.

Apakah Kekristenan Mencuri Torah?

Asal Mula  Orang Yahudi yang Mengakui Yesus

Pada abad pertama, banyak orang Yahudi yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Mereka disebut sebagai Kristen Yahudi.
Artinya, Kekristenan tidak muncul sebagai agama asing dari luar Israel, melainkan tumbuh dari akar iman Yahudi yang telah menantikan Mesias sejak lama.

Yesus sendiri berkata dalam Matius 5:17:

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
(Matius 5:17)

Dengan kata lain, Yesus tidak menghancurkan Taurat, melainkan menggenapinya  Ia adalah puncak dari semua nubuat dan janji yang telah Allah berikan kepada bangsa Israel.

Dari Janji ke Penggenapan

Seluruh kisah dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada sosok yang akan datang  Mesias, Penebus, Raja yang akan memerintah selamanya.

  • Yesaya 9:6–7 menubuatkan:


    “Seorang anak telah lahir untuk kita… namanya disebutkan: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

  • Yeremia 23:5–6 berkata:


    “Nama-Nya ialah: TUHAN (YHWH) keadilan kita.”

Ketika Yesus datang dan disebut Kurios, para penulis Perjanjian Baru sedang mengatakan:

“Inilah Dia  Yahweh yang dijanjikan, kini datang sebagai manusia.”

Yesus sebagai Yahweh yang Menjelma

Inkarnasi  Allah yang Menjadi Manusia

Inilah inti dari iman Kristen: Allah tidak lagi jauh di langit, tetapi turun dalam rupa manusia untuk menebus manusia dari dosa.
Injil Yohanes menegaskan hal ini dengan sangat jelas:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:1, 14)

Yesus bukan manusia yang menjadi Allah,
melainkan Allah yang memilih menjadi manusia agar kita mengenal kasih dan kebenaran-Nya secara nyata.

Kematian dan Kebangkitan  Bukti Ketuhanan yang Tak Terbantahkan

Ketika Yesus mati di kayu salib, dunia melihatnya sebagai kekalahan.
Namun, kebangkitan-Nya mengubah segalanya.
Paulus menulis:

“Dia telah ditetapkan menjadi Anak Allah yang berkuasa menurut Roh kekudusan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus Kristus Tuhan kita.”
(Roma 1:4)

Kebangkitan bukan hanya tanda mukjizat  itu adalah pembuktian identitas ilahi-Nya.
Tidak ada nabi, raja, atau guru moral yang bisa mengalahkan maut.
Hanya Allah yang bisa.

Kesimpulan: “Yesus adalah Kurios”  Pengakuan Iman yang Kekal

Ketika orang Kristen mengucapkan kalimat sederhana,

“Yesus adalah Tuhan,”

itu bukan sekadar sapaan atau doktrin teologis.
Itu adalah pengakuan iman yang paling mendalam:
Bahwa Yesus adalah Yahweh yang menjelma menjadi manusia,
datang untuk menyelamatkan dunia,
dan kini berkuasa atas surga dan bumi.

Sebagaimana dikatakan dalam Filipi 2:9–11:

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit, di bumi dan di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.”

Refleksi Akhir

Iman Kristen bukanlah “pencurian” dari tradisi Yahudi, melainkan penggenapan dari janji-janji Allah.
Yesus tidak diciptakan oleh Paulus, melainkan diakui oleh para murid dan disingkapkan oleh Allah sendiri.

“Kurios” bukan hanya gelar kehormatan.
Itu adalah nama kudus yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah yang hidup,
yang datang bukan untuk meniadakan Taurat, melainkan untuk menggenapinya
bukan untuk menuntut penyembahan buta, tetapi untuk menyelamatkan manusia yang Ia kasihi.

Related

Leave a Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here