Keluarga yang Sehat Mengejar Kedamaian: Mengapa Kita Harus Saling Mengampuni?

Published on:

Di dalam keluarga, kita menghabiskan banyak waktu bersama. Kita bersenang-senang, menciptakan kenangan yang tak terlupakan, dan sering mengingat kembali momen jalan-jalan atau liburan yang penuh dengan sukacita.

Namun, pernahkah kita menyadari bahwa keluarga bukanlah sebuah kebetulan? Keluarga dipilih oleh Tuhan untuk kita semua. Ibu, bapak, kakak, dan adik—semuanya telah ditentukan oleh-Nya. Kita patut mengucap syukur atas berkat kehadiran mereka.

Tahukah Anda bahwa Allah menciptakan keluarga jauh sebelum Dia mendirikan gereja? Kemanusiaan berpusat dari keluarga. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi sebuah keluarga Kristen untuk secara aktif mengejar kedamaian. Pada akhirnya, Injil paling nyata tergambar ketika sebuah keluarga Kristen mengejar kedamaian.

Makna Sesungguhnya dari “Shalom”

Setiap kali kita masuk gereja atau bertemu dengan saudara seiman, sapaan yang sering kita sampaikan adalah “Shalom”. Tapi, tahukah kita apa artinya? Shalom berarti Damai Sejahtera.

Namun, damai sejahtera tidak terjadi secara otomatis. Kedamaian mewajibkan adanya usaha dari kita. Jangan alergi dengan kata “wajib” ini, karena justru melalui usaha mengejar kedamaianlah kita dapat membuktikan iman kita yang sesungguhnya.

Dunia mengajarkan hal yang sebaliknya. Dunia berkata: “Boleh iri hati, tidak masalah jika menyimpan kepahitan, sah-sah saja membalas dendam, dan jangan pernah lupakan kesalahan orang lain.”

Kadang-kadang kita pun terjebak dalam sikap ini. Kita berkata: “Saya tidak bisa dan tidak akan mengampuni dia. Dia bicara buruk tentang saya, dia memblokir saya di sosmed, dia tidak mengundang saya ke acaranya. Saya tidak akan pernah bicara lagi dengan orang itu!”

Padahal, pengampunan adalah sikap yang menjadi pusat iman kita. Tanpa pengampunan, tidak ada keselamatan bagi kita.

Mengukur Harga Sebuah Pengampunan (Matius 18:21-27)

Untuk memahami hal ini, mari kita merenungkan perumpamaan Yesus dalam Injil Matius 18. Cerita ini diawali dari pertanyaan Petrus. Petrus adalah manusia biasa seperti kita. Mungkin kita juga sering berpikir seperti dia:

“Berapa kali kita harus mengampuni saudara kita jika dia berbuat dosa terhadap kita? Aku sudah capek mengampuni. Aku tidak mau mengampuni lagi, sudah cukup!”

Yesus kemudian merespons dengan sebuah cerita tentang seorang hamba yang berhutang kepada Rajanya sebesar 10.000 Talenta. Mari kita coba hitung berapa nilainya di zaman ini.

  • Di zaman Yesus, 1 Dinar setara dengan gaji harian pekerja.
  • 1 Talenta adalah unit mata uang paling besar, yang nilainya sama dengan 6.000 Dinar.
  • Angka 10.000 adalah angka paling besar dalam bahasa Yunani kuno.

Jika dikonversikan ke masa kini, 10.000 talenta itu kemungkinan bernilai sekitar 86 Triliun Rupiah! (Sebuah angka dengan 12 nol). Untuk melunasinya, seseorang harus bekerja selama 200 ribu tahun atau 60 juta hari. Mustahil. Sama sekali tidak mungkin.

Lalu, apa yang terjadi ketika sang Raja menagihnya dan hamba itu tidak bisa membayar? Ayat 26-27 mencatat momen yang luar biasa: Raja itu menghapuskan hutang hambanya. Mengapa? Murni karena belas kasihan.

Tragedi 100 Dinar: Kegagalan Meniru Kasih Karunia

Bayangkan jika Anda yang berada di posisi hamba itu. Anda punya hutang yang mustahil dilunasi, lalu sang pemberi pinjaman dengan penuh belas kasihan menghapusnya. Seharusnya reaksi Anda seperti apa? Tentu senang, bersyukur luar biasa, dan pastinya mau mengampuni orang lain karena Anda sendiri sudah mengalami pengampunan yang tak masuk akal itu. Itu adil dan sesuai, bukan? Jika tidak, kita hanyalah orang sombong yang mementingkan diri sendiri.

Namun, mari kita lihat kelanjutan ceritanya di ayat 28. Tetapi… aduh, hal yang menyedihkan terjadi. Hamba yang baru saja diampuni hutang triliunan rupiahnya itu, bertemu dengan temannya yang berhutang 100 Dinar kepadanya (jumlah yang sangat kecil). Bukannya meniru sikap sang Raja, hamba itu menolak mengampuni temannya.

Perumpamaan ini sebenarnya sedang berbicara tentang kita semua. Allah dilambangkan sebagai Raja, dan kita adalah hamba yang memiliki hutang dosa yang begitu besar dan mustahil dilunaskan. Namun, Yesus Kristus datang ke dunia dan naik ke atas kayu salib untuk melunaskan seluruh hutang dosa kita secara percuma!

Oleh karena itu, ketika kita—sebagai keluarga dan jemaat—saling mengampuni, kita sedang memperagakan Injil yang nyata.

Panggilan Untuk Mengampuni (Perintah Alkitab)

Sikap saling mengampuni harus lahir dari hati nurani, dan ini ditekankan berulang kali dalam Alkitab:

  • Efesus 4:31-32: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang… hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
  • Kolose 3:13: “Sabarlah kamu… dan ampunilah seorang akan yang lain… sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
  • Matius 6:15: Bahkan dalam Doa Bapa Kami, Yesus menegaskan: “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
  • Filipi 4:8: Kita dipanggil untuk mengendalikan pikiran kita. “Semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar… pikirkanlah semuanya itu.”

Refleksi Hati: Siapa yang Belum Anda Ampuni?

Kini, waktunya kita bertanya pada diri sendiri di hadapan Tuhan:

  • Sudahkah Anda mengampuni orang yang menyakiti Anda di dalam hati Anda?
  • Siapkah Anda untuk mengampuni jikalau mereka datang mengakui kesalahan dan meminta maaf?

Di dalam keluarga, jika tidak ada pengampunan, tidak akan ada damai dengan Tuhan, dan tidak ada damai dengan sesama.

  • Bagi Suami & Istri: Apakah suami sudah mengampuni istri untuk makan malam yang gosong? Apakah istri sudah mengampuni suami karena ia lupa hari ulang tahun pernikahan?
  • Bagi Anak & Orang Tua: Apakah ada kepahitan dalam hati Anda karena sesuatu yang dilakukan oleh orang tua di masa lalu?
  • Bagi Jemaat: Apakah Anda tidak bisa mengampuni saudara seiman karena perilaku atau kata-kata yang ia ucapkan lima tahun yang lalu?

Jangan sampai kita menjadi seperti hamba yang jahat itu; hutang kita yang luar biasa telah dilunaskan oleh Tuhan, namun kita tidak bisa melunasi kesalahan kecil orang lain.

Walaupun mengampuni tetap memiliki konsekuensi atas tindakan yang terjadi, namun setelah diampuni, kita tidak lagi terus-menerus memikirkan peristiwa tersebut. Kita tidak mengungkitnya berulang kali. Kita move on. (Bisa jadi orang yang kita ampuni tidak berubah, namun hati kita sudah beres di hadapan Tuhan).

Bisakah Anda menaikkan doa ini hari ini?

“Tuhan, saya mau mengampuni mereka seperti Engkau melalui Kristus telah mengampuni saya. Saya mau memandang mereka dengan pandangan-Mu yang penuh anugerah dan belas kasihan. Perbarui pikiran saya; saya tidak mau mengungkit kembali kesalahannya. Mampukan saya untuk menjaga perkataan saya mengenai orang tersebut, dan berkatilah mereka dengan kasih-Mu.”

Apakah ada sesuatu yang terjadi 10 tahun yang lalu dan masih tidak bisa dilupakan? Mari serahkan itu dalam doa kepada Tuhan. Tidak ada pengampunan yang sejati di luar Kekristenan.

Panduan Praktis: Membangun Kedamaian dalam Hubungan

Sebagai penutup, jika Anda sedang berada dalam konflik, mari selesaikan dengan cara Tuhan. Tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda ingin menyelesaikan hubungan permasalahan ini dengan baik?

Mulailah dengan berbicara kepada Tuhan. Lalu, identifikasi posisi Anda:

  • Peran Biru: Anda merasa telah tersakiti atau tersinggung oleh orang lain.
  • Peran Merah: Sepertinya ada orang lain yang tersinggung atau tersakiti karena perkataan/perbuatan Anda.

Berdoalah sesuai peran Anda sebelum mengambil keputusan untuk berbicara dengan orang yang bersangkutan. Jadikan ini sebagai motivasi untuk membangun keluarga yang damai, dengan memegang teguh 5 Rukun Mengejar Kedamaian:

  1. Mengejar Kedamaian: Tuhan menginginkan Anda berdamai dengan semua orang (Roma 14:19).
  2. Koneksi Spiritual: Hubungan Anda dengan manusia mencerminkan dan mempengaruhi hubungan Anda dengan Tuhan (Ibrani 12:14).
  3. Menghargai Keunikan: Memperlakukan setiap orang sebagai individu unik yang diciptakan dan dikasihi oleh Tuhan.
  4. Tanpa Prasangka: Memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama tanpa memihak atau berprasangka.
  5. Menjadi Berkat: Setiap orang akan merasa terberkati ketika Anda (sedapat-dapatnya) mengejar kedamaian secara Alkitabiah (Roma 12:18, Efesus 4:3).

Ketika kita berdamai dengan Tuhan dan dengan sesama, barulah keluarga kita bisa memantulkan cahaya Injil kepada masyarakat di sekitar kita yang belum mengenal kedamaian sejati.

Related

Leave a Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here